New Post

Meet The Creator :
Inovatif di tengah Pandemi

Radar Jogja Channel

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) beberapa bulan terakhir memberi dampak yang signifkan bagi perputaan ekonomi khususnya sektor UMKM. Salah satunya pelaku usaha yang merasakan dampak dari pandemi ini adalah Francisca Puspitasari.

Founder dan owner produk keramik Kaloka Pottery ini telah menutup store dan studionya sejak awal maret lalu. “Alasanya demi kebaikan bersama,” jawabnya singkat. Kika, sapaannya, menuturkan studio Kaloka Pottery yang berada di Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Jogja ini terbuka untuk umum. Dalam sehari bisa ratusan orang yang berkunjung melihat langsung proses produksi. Selengkapnya tonton sampai habis ya

VIDEOGRAFER : NANANG FEBRIYANTO/SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
VIDEOEDITOR : OKTAVIANO DP/RADAR JOGJA

New Post

#LLPlacetoGo
Place to Go: Kaloka Pottery


Story by : Nike Prima Dewi founder of Livinglovingnet

Akhirnyaa kami mampir juga ke Kaloka Pottery, sebuah toko dan workshop keramik yang berdiri sejak tahun 2016. Beberapa kali main ke Jogja, tapi baru kali ini sempat berkunjung dan ngobrol-ngobrol sama Francisca Puspitasari, pemilik Kaloka Pottery. Di Kaloka ada berbagai macam produk keramik dengan berbagai macam warna, mulai dari earth tone sampai warna-warna cerah. Selain itu ada home decor lainnya juga!

New Post

Bermula dari Tungku Cicilan, Kini Kalola Pottery Bisa Kirim Cangkir ke Eropa dan Timur Tengah

Bermula dari Tungku Cicilan, Kini Kalola Pottery Bisa Kirim Cangkir ke Eropa dan Timur Tengah

Tribun Jogja/ Fatimah Artayu Fitrazana
Fransisca Puspitasari atau Kika, pemilik Kaloka Pottery berpose dengan cangkir keramik produksinya di studio, Bausasran, Danurejan, Yogyakarta. 

~Tak punya dukungan finansial yang besar, Fransisca Puspitasari atau Kika yakin dan nekat membuat Kaloka Pottery bermodal ide dan kreativitas. Meski dimulai dengan ide dan dana seadanya, kini Kika mampu mempekerjakan 10 perajin keramik, menembus pasar hotel dan kedai-kedai kopi, tak hanya di Jogja, tapi hingga mancanegara.~

Tahun 2016, Kika memulai bisnis membuat kerajinan keramik tanpa memiliki studio. Wanita yang hobi berjalan kaki ini mengaku tak memiliki latar belakang pendidikan keramik yang mumpuni.

Karena kesukaannya pada keramik, Kika terdorong untuk membuat sebuah merek, dan terciptalah Kaloka Pottery.

Tapi, mengingat pesanan yang semakin bertambah dan mengingat produksinya tidak bisa selalu dikontrol, dia memutuskan untuk mendirikan studio di tahun 2017 dengan modal minim.

"Tungku pertama dibuat oleh teman saya dari Bandung dan boleh dibayar dicicil," ungkap Kika saat menceritakan bagaimana kondisi awal studionya.

Saat ditemui reporter Tribunjogja.com di studionya, Jumat (31/8/2018), Kika mengerjakan sendiri produksi keramiknya karena tak punya modal.

"Gagal bakar lima kali lah awal-awal," akunya.


Produk cangkir produksi Kaloka Pottery.
Produk cangkir produksi Kaloka Pottery. (Tribun Jogja/ Fatimah Artayu Fitrazana)

Hanya dalam dua tahun sejak berdiri, cangkir dan produk keramik Kaloka kini sudah tersebar, mulai dari digunakan pribadi, kedai kopi, sampai hotel menjadi kliennya.

Lalu, bagaimana cara Kika memasarkan produknya dengan modal terbatas?

Pre-order (PO) menjadi kuncinya, menurut Kika.

Dia juga menawarkan produknya ke hotel-hotel dan media sosial.

"Mau bikin website tapi ora duwe duit, jadi pakai Instagram saja," ungkapnya.

Penggunaan Istagram dan memaksimalkan tagar, menjadi pintu para pelanggan mulai melirik Kaloka.

Lama-kelamaan mulai banyak pemesan dan mereka juga mengunggah produk-produk Kaloka ke media sosial.

Setelah itu, Kika menghadapi masalah baru, yaitu sulitnya menemukan pengrajin yang mau bergabung dengan Kaloka.

"Karena saat itu Kaloka merek baru, pengrajin sulit diajak ikut. Kami memiliki standar ukuran yang berbeda, sedangkan perajin punya pandangan yang berbeda soal karya," katanya.

Kini, Kaloka Pottery telah memiliki sembilan orang yang berada di studio dan 10 perajin.

Semua produk keramik di sini dibuat menggunakan tangan atau handmade.

Kaloka memiliki beberpa tema produk yang unik, misalnya edisi anomali dan petal.

"Anomali tercipta karena gagal bakar lima kali, di mana hasilnya agak keriting. Jadi tidak sengaja," aku Kika, sang pemilik saat menemukan edisi anomali.

Sedangkan edisi petal merupakan perpaduan keramik dan goresan kuas.

"Kami melakukan cukup banyak uji coba dan akhirnya menemukan goresan dan warna yang sesuai," ungkapnya.

Dengan harga produk mulai dari Rp70 ribu hingga Rp135 ribu, Kika mengaku pembeli Kaloka Pottery tak hanya datang dari Indonesia saja.

"Pembelinya pernah ada dari Eropa, Australia, kami juga pernah mengirim ke Timur Tengah," jelasnya.

Kika menyampaikan, untuk proses penemuan ide desain produk Kaloka biasanya mengamati tren yang telah disesuaikan dengan kekhasan Kaloka Pottery.

"Desain dari saya, tapi perkembangannya kita diskusikan dengan tim," ujarnya. (Tribun Jogja/ Fatimah Artayu Fitrazana)


Sumber : https://jogja.tribunnews.com/2018/09/27/bermula-dari-tungku-cicilan-kini-kalola-pottery-bisa-kirim-cangkir-ke-eropa-dan-timur-tengah?

New Post

Oleh-Oleh Khas Jogja

Sahabat terbaik untuk minum teh atau kopi: Kaloka Pottery

Punya teman atau kerabat yang senang minum teh atau kopi? Koleksi dari Kaloka Pottery bisa jadi oleh-oleh unik yang bermanfaat untuk mereka.

Photo via zulmiaosha, ciawardhana, zahrammulyanisa, jocelynshania

Lihat saja cangkir-cangkir yang terbuat dari tanah liat lokal Indonesia ini. Dengan desain yang cantik, pasti akan membuat sesi minum teh lebih menyenangkan.

Photo via yumi269, pamelawirjadinata

Atau kamu ingin mengoleksi piring-piring menggemaskan ini?

Daripada bingung, langsung beli saja semuanya. Tenang, tidak perlu khawatir produk ini akan rusak saat di perjalanan. Kaloka Pottery punya standar pengemasan yang apik dan meminimalisir kemungkinan produk akan pecah.

Sumber : https://indonesia.tripcanvas.co/id/jogja/oleh-oleh-unik-khas/

New Post

Your Kaloka     X     Lindungi Hutan

Mangrove dari Kaloka untuk Pesisir Demak

penanaman 1000 mangrove di pesisir Demak Kaloka Pottery dengan LndungiHutan
Aksi penanaman 1000 mangrove di pesisir Demak Kaloka Pottery dengan LindungiHutan

Press Release : (Demak, 25 November 2019)

Kaloka Pottery bersama LindungiHutan telah menyelanggarakan penanaman 1000 mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak pada hari Minggu, 24 November 2019. Aksi penanaman ini di selenggarakan atas inisiatif dari Kaloka Poettry sebagai tanda terimakasih kepada alam yang telah menunjang terciptanya karya berasarkan ide dan kreativitas dari Kaloka Pottery.

Kaloka Pottery merupakan tempat pembuatan keramik unik buatan tangan dengan bahan dasar tanah liat lokal Indonesia yang berlokasi di Bausasran DN III No. 695, Danurajen, Yogyakarta. Kaloka Pottery menjadi salah satu tempat pembuatan keramik buatan tangan yang selektif dan telah melakukan banyak pertimbangan dalam mengambil tanah liat sebagai bahan utama produksi guna menjaga kelestarian alam nusantara.

Fransisca Puspitasari, founder dari Kaloka Pottery
Fransisca Puspitasari, founder dari Kaloka Pottery

Fransisca Puspitasari, founder dari Kaloka Pottery mengatakan “Kaloka pottery adalah usaha atau bisnis untuk memberikan kebaikan. Bersyukur atas apa yg ada salah satunya berkarya dan berbuat sesuatu untuk lingkungan dan sesama”

maka dari itu, Kaloka Pottery memilihan pesisir Demak sebagai lokasi penanaman karena atas dasar bentuk berterimakasih kepada alam juga dilatarbelakangi oleh terjadinya kerusakan lingkungan yang cukup parah. Pesisir Demak telah tergerus abrasi dan membahayakan keberlangsungan hidup masyarakat disana.

Dilansir dari detik.com bahkan beberapa penduduk sudah harus pindah karena rumahnya terendam air laut. Wakil Bupati Demak Joko Sutanto mengatakan “Abrasi di Demak mencapai 798 hektar. Di Sayung 420 sekian hektar, Karangtengah sekitar 57 hektar, Bonang 48 hektar, dan Wedung 250 hektar,” dalam sambutan acara memperingati Hari Bumi ke-47 di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (22/4/2017).

Sayung mengalami abrasi terparah yaitu sekitar 420 hektar. Kerusakan yang dialami di Sayung ini membuat sejumlah bangunan rusak, rumah-rumah terendam air laut, dan beberapa sudah ditinggalkan pemiliknya. Selain itu Sayung yang dulunya wilayah persawahan kini sudah berubah menjadi lautan dan banyak rumah warga yang tenggelam.

Untuk itu, Kaloka Pottery bersama LindungiHutan mengajak masyarakat siapapun dan dimanapun untuk peduli terhadap alam semesta, manusia merupakan bagian dari alam semesta. Menjaga dan melestarikan lingkungan dimulai dari diri sendiri, 1000 mangrove dan tak terhitung jumlah pohon kedepannya akan memberikan dampak kebaikan untuk alam semesta seisinya.

Untuk info lebih lanjut kunjungi lindungihutan.com

Sumber : https://blog.lindungihutan.com/mangrove-dari-kaloka-untuk-pesisir-demak/

New Post


KOMPAS TV
Keren! 
Kerajinan Tembikar Yogyakarta Ini
Tembus Pasar Dunia

Jumat, 3 Agustus 2018 | 08:06 WIB


Kerajinan tembikar jadi kian bernilai tinggi di bawah naungan Kaloka Pottery Yogyakarta.

Bermula dari keinginan untuk memberdayakan para pengrajin lokal, Kaloka Pottery sukses hasilkan karya unik dan beragam.

Kika, pemilik Kaloka Pottery memilih menggunakan Instagram sebagai media promosi karena mudah diakses.

Bukan sekadar menjual produk, Kaloka Pottery kenalkan cerita di balik proses pembuatan tembikar dalam konten instagramnya

Dengan mengandalkan fitur hashtag, Kika berhasil merangkul komunitas kopi dan teh yang juga pengguna tembikar

Tak tanggung-tanggung, komunitas di Timur Tengah hingga Eropa menjadi targetnya.


Editor : Desy Hartini

Sumber : https://www.kompas.tv/article/30213/keren-kerajinan-tembikar-yogyakarta-ini-tembus-pasar-dunia

New Post

  • Home > Lifestyle
    Kaloka Pottery, Bermodal Rp 1 Juta
    Bisa Ekspor ke Qatar dan Eropa

kaloka liputan6

Kaloka Pottery di Yogyakarta jadi destinasi wisata menarik yang dapat Anda kunjungi. Bermodalkan awal Rp 1 juta, kini Kaloka telah mengekspor produknya ke Qatar dan Eropa. (Liputan6.com/Komarudin)

Liputan6.com, Jakarta - Yogyakarta menyuguhkan beragam keistimewaan. Selain pesona alamnya yang indah, provinsi yang dijuluki Kota Gudeg itu juga memiliki lokasi wisata yang menarik. Salah satunya Kaloka Pottery, tempat pembuatan handmade keramik yang terletak di Jalan Bausasran Danurejan DN3 no. 659, Yogyakarta.

Menurut pemiliknya, Francisca Puspitasari, awal ia membuat Kolaka Pottery karena jobless. Dari situ, ia berusaha untuk membuat usaha hingga akhirnya terpikir membuat usaha keramik dengan modal kecil pada 2016.

"Modal awal 1 juta rupiah, uang tersebut saya gunakan untuk buat sample satu set. Setelah itu, saya buat foto, katalog, alakadarnya dan mendatangi teman-teman saya yang membutuhkan keramik, tapi saya tetap fair secara harga dan kualitas," ungkap perempuan yang akrab disapa Kika saat Liputan6.com berkunjung dalam program #jalan2jenius dari PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), baru-baru ini.

Usaha Kika rupanya membuahkan hasil. Ia mendapatkan pesanan keramik sekitar 5.000 buah. Mulai dari piring, mangkok, pasta piring, dinner plate, dan lainnya.

New Post

  • ART & CULTURE
    Kaloka Pottery:
    Learning life lessons from ceramic making

BAMBANG MURYANTO -THE JAKARTA POST

Yogyakarta  /  Sun, February 2, 2020  /  01:00 pm

Kaloka Pottery: Learning life lessons from ceramic making

The colorful mugs made by Kaloka Pottery (JP/Bambang Muryanto)


After becoming weary of working for a lifestyle company, in 2016 Fransisca Puspitasari, 43, decided to resign and produce her own ceramic ware under the brand of Kaloka Pottery, the business has since taught her about life and has opened ways for her to do good deeds for nature.


At the front of her 1825-built house in Bausasran subdistrict, Danurejan district, Yogyakarta, she has created a small glass-walled showroom to display various ceramic tableware such as cups, plates and jars.

The buyers, most of whom are fairly well-to-do, can also watch the finishing process of the products in the studio located next to it.


Producing ceramic ware is mysterious. After being fired, the results can be different from what we wanted,” Fransisca, or Kika as she is affectionately called, recently told The Jakarta Post.


From the process, she said, she learned that producing ceramics was like going through life: never hope for too much, what matters the most is doing something useful and expect nothing in return. Life is not a smooth road. It is a long learning process so that humans have to be thankful for what they get, she said.


When building the business and facing many challenges, she relied heavily on her intuition, logic and previous work experience in order to survive.


She said she learned how to make ceramics when she studied at the Yogyakarta Institute of the Arts (ISI Yogyakarta), majoring in crafts. She knew well that making ceramics was difficult. She even almost gave up because she often failed.


Thanks to her perseverance and wide network, she was finally able to realize her dream of running a handmade ceramic tableware business that boasts products with up-to-date colors and ornamentation to meet international market demand.


Kaloka Pottery founder Francisca Puspitasari Kaloka Pottery founder Francisca Puspitasari (JP/Bambang Muryanto)


“I initially only made the design, took the pictures of the samples and uploaded them on my Instagram account,” said the mother-of-two.

It was from Instagram that she started receiving orders. Yet, she felt uncomfortable when meeting the orders because she had to work on them in someone else’s studio. She decided to build her own studio in mid-2017. Not long after that, she received an order from a restaurant in Qatar, which had learned about her products from social media, for 2,000 units of ceramic tableware.


From there she started employing more workers and bought new ovens. She also built another studio so she could meet the orders from café owners from all over Indonesia as well as from Middle Eastern countries and the United States.


“I am lucky because my ceramic products have passed the international test and are declared as being safe for food,” she said.

A cafe in Yogyakarta named Klinik Kopi, which uses Kaloka Pottery products, went viral after it appeared in the movie Ada Apa dengan Cinta 2 (What's Up with Cinta? 2). The café owner, Pepeng, said he used a Kaloka Pottery product, the Koka dripper, because of its local brand status.

“Indonesia is rich in materials to make a dripper. Why don’t we use our own products?” he said, adding that apart from using the product for its own business, his café had since 2017 also marketed over 5,000 units of the dripper, which comes in five choices of colors.


A Kaloka Pottery employee in the process of creating a productA Kaloka Pottery employee in the process of creating a product (JP/Bambang Muryanto)


Kaloka Pottery has also cooperated with the Papermoon Puppet Theater group to produce merchandise mugs for its Puno (Letter from the Sky) puppet performance.


“The studio makes attractive handmade ceramics. Why shouldn’t we cooperate?” Papermoon’s co-artistic director Maria Tri Sulistyani said, adding that she and Kika also happened to be friends.

Instagram has also featured her in one of its limited #founders series profiles, which focus on "amazing small business owners from all over the world".

Kika currently also offers short classes for those who want to learn how to make ceramics. Those interested in joining, including tourists visiting Yogyakarta, can choose between regular and private classes.


Despite the current popularity of Kaloka – a Sanskrit word meaning famous – Kika has not forgotten her promise to do good deeds by spending part of her profits on social activities such as helping disaster survivors and orphans. She also donates some of her profits for mangrove planting in Demak, Central Java, helping to produce compost in her home village, and becoming a foster parent for baby orangutans.


“I certainly built this business to do good deeds, to make my team wealthy, to maintain culture and to care for nature and others.” (yun/kes)

Sumber : https://www.thejakartapost.com/life/2020/02/02/kaloka-pottery-learning-life-lessons-from-ceramic-making.html

New Post

The word Kaloka comes from Sanskrit meaning famous.

KALOKA POTTERY

Using local Indonesian clay, we create using a hand craft technique.

Processing with our hearts and love, we've designed and made Kaloka full of

joy and happiness. We choose to use the technique of thrown  and manual

formation by hand because Kaloka has its own soul. Indonesian material,

variety and craftsmanship honouring the heritage of our ancestors.  We

believe that kaloka ceramics have "soul" and “love".


Kaloka ceramics have unique characteristics in every piece. We are not a

factory but we are able to produce in large quantities, and our specialty

is that every product is unique. Kaloka’s soul has a personal touch in

every piece.


Our studio is located in Jogja, the cultural heart of Indonesia. The human

capital and cultural wealth of Java are in perfect harmony with Kaloka

ceramics.  Every process of our journey is guided by our rich heritage and

local wisdom. Our crafts people are mostly women. In their modesty and with

their skilled hands they are proud partners of Kaloka.


The glazing and burning process is carefully completed in our studio

located at Bausasran DN III no 695, Danurejan, Yogyakarta, Indonesia. We do

the glazing process one by one with painting, spray and dye techniques. As

a form of our love to the universe, in this process we do as effectively as

possible. Almost no materials are wasted.  We are always challenged to

produce a unique Kaloka which is beautiful and has a soul.


Our studio is open for public to come and see the process of Kaloka ceramic

production.  Discussing and sharing knowledge preserving the universe is a

core Kaloka belief.


In our daily life with the strong and proud culture of Indonesia we create

a design and form that’s artistic in accordance with its function. Some

Kaloka clients want to have a custom design which after honest discussions,

careful processing and mutual understanding of the client we aim to create

"soul" for clients also that are always in harmonious.  We believe this is

our DNA.